Cipt : Nia Kurniasih-Ciamis Jabar
’’BUNUH DIRI, itulah yang ada dalam benakku ketika lelaku yang kucintai
Menikahi sahabatku sendiri. Apakah ini salahku atau salah ustadku yang melarang aku berhubungan dengannya ????!!!”
usiaku kurang lebih 20 tahun, begitupun dengannya. Sejak lulus SMU, aku tak tahu kabarnya. Semasa SMU aku tak begitu dekat dengannya, hanya kenal sebagai teman satu sekolah saja. Waktu berlalu menyertai setiap perjalananku, begitupun dengannya. Selang satu tahun, kami bertemu kembali dalam forum kajian yang diadakan didaerah kami.
Keakraban pun terajut dengan menyenangkan seiring liburan semesterannya yang cukup panjang. Memang tak ada yang istimewa, tapi sungguh istimewa bagi syetan yang tak sudi manusia berada dalam jalan lurus. Begitu pun dengan kami. Sampai akhirnya kami terjerat dalam perasaan yang menjadikan kami terlilit berjuta dilematik.
Dan aku tak dapat menyangkal ketika kerinduanku padanya mengalirkan telaga bening dimataku. Aku menangis setiap ingat dirinya. Aku merindukannya dan sangat berharap bisa menikah dengannya, sekalipun ikhwan dan akhwat tak pernah menyukai pemikiran dan tindakanku. Hatiku saat itu benar-benar rapuh. Aku merasa sudah menemukan orang yang tepat bagiku.
Namun ternyata hidup tak begitu berpihak kepadaku. Ustadku tak pernah menyukai jalan pikiranku. Ia dengan tegas mencap, apa yang ada didalam hatiku sebagi penyakit hati. Aku pun protes, sekalipun hanya dalam hati. Salahkah bila aku mencintai seseorang ? walapun aku mnyadari selama ini dakwahku telah terkotori oleh bumbu-bumbu menjijikan itu. Lantas selama ini yang kuperbuat untuk siapa, dimana lagikah Allah yang kuberi kuobral dalam pembedhan ayat, nyatanya aku sendiri telah menggantikanNya dengan selainNya.
Kebimbangan yag ada dalam hati membaut aktifitas dakwahku terhambat. Aku mencoba untuk menjauh darinya. Walau terasa sakit, begitu sakit, karena aku tahu diapun menyimpan yang sama padaku. Entah bagaimana perasaanku, bahagia dan sedih menyatu, ketika tahu kalau cintaku tak bertepuk sebalah tangan. Aku benar-benar bingung, apa yang harus kulakukan ?
Allah menjawab kebimbanganku lewat sebuah surat undangan, dimana tertera namanya dan nama seorang akhwat yang tak lain adalah sahabatku sendiri. Air mataku benar-benar jatuh kebumi. Hatiku habis dan beku. Tak ada kata, tangis apalagi tawa. Bumiku saat itu terasa hancur berkeping-keping. Tidak adakah satu tempat untuk cinta berpihak kepadaku ? aku bingung apakah aku harus menyalahkan ustadku ataukah diriku sendiri. Yang pasti, pernikahan itu telah menghancurkan hidupku.
Satu yang terpikir, aku ingin berlari sejauh mata tak bertepi meninggalkan kepingan cerita yang hanya menertawaiku. Aktivitasku total terhenti, aku benar-benar kecewa, sakit hati, mungkin bahasa gaulnya anak ABG, patah hati. Yah, itulah yang kualami, tak sedikitpun aku tutupi. Sangat terbayang hal yang bodoh dalam benakku. Tentang bunuh diri, dan meninggalkan lingkungan islami yang selama ini telah menghijrahkanku. Cukup dalam lukaku, sampai aku tak mengindahkan panggilan ustadku. Aku hanya ingin pergi, pergi jauh meninggalkan dunia ini.
Namun harus kusyukuri, Allah masih sayang padaku, setelah sekian lama cintaku tergadai kepada selainNya. Hidayah masih bersinar dalam dadaku. Hingga satu waktu aku memenuhi panggilan ustadku untuk menghadiri undangan ta’aruf. Kini aku tahu sesuatu yang terbaik menurutku tak seperti itu menurutNya. Buktinya, Dia menghadirkan sosok lain untuk aku yang jauh lebih baik darinya. Aku akan tetap menjadikannya saudara seimanku sekalipun syetan pernah memperdaya kami. Karena itu adalah msa lalu yang dapat dijadikan pelajaran bagi hidupku di masa yang akan datang. Karena aku menyadari dialah yang menghantarkanku dalam memaknai arti cinta yang sesungguhnya. Cinta yang hanya milik Illahi. Terimakasih untuk cinta. Maafkan saudaraku, yang telah kutabur benih cinta yang tak seharusnya aku puja. Semoga keberkahan Allah dilimpahkanNya kepada kalian berdua. Terimakasih untuk doanya yang kalian haturkan kepadaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar